Feeds:
Posts
Comments

New Place, new Hope

10 Maret 2010,  03.30…

Saya Menginjakkan kaki lagi di Cikarang, sebuah kota industri di sebelah timur kota jakarta. Tempat ini tidak begitu asing bagi saya karena satu tahun lalu saya pernah satu bulan disini untuk magang di sebuah perusahan elektronik terkemuka. Dan sekarang, mulai tanggal 11 Maret, saya akan menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

Walaupun pernah tinggal disini, tetap saja ini tempat baru bagi saya dan masih asing bagi saya. Lingkungan baru, bertemu orang baru, budaya baru, dan jauh dari keluarga. huff, rasanya kesepian disini dan saya haru beradaptasi dengan lingkungan baru ini.

Jadi inget nasihatnya pak Uki. Kita di perantauan, jauh dari keluarga dan sanak famili maka carilah teman sebanyak-banyaknya dan bangunlah silahturahim. Karena merekalah yang akan menjadi saudaramu ditempat perantauan. Dan bila terjadi sesuatu hal, merekalah yang akan membantumu terutama tetanggamu.

Jadi mulai sekarang, kenalilah tetanggamu, cari banyak teman, bangun silahturahimm dan bergaullah dengan benar.

New place.. new hope

Tips wawancara

Artikel dibawah ini sangat lengkap mengenai wawancara, bahkan rahasia
pertanyaan-pertanyaan yang sering di lontarkan oleh Interviwer. So
dibaca sampai habis ya… Good luck for you…

Meski anda merasa pintar dan brilian, jangan keburu yakin bahwa semua
pintu perusahaan akan terbuka secara otomatis untuk anda. Sebab
kenyataannya, para tuan dan nyonya pintar ini seringkali gagal dalam
wawancara. Alasannya ? tidak smart dan taktis dalam menjawab pertanyaan.

1. Ceritakan tentang diri anda

Erina Collins, seorang agen rekruitmen di Los Angeles menyatakan
seringkali ada perbedaan yang mengejutkan antara ketika kita membaca
lamaran seseorang dengan saat berhadapan dengan si pelamar. “Pengalaman
menunjukkan, surat lamaran yang optimis tidak selalu menunjukkan bahwa
pelamarnya juga sama optimisnya,” kata Erina. Ketika pewawancara
menanyakan hal yang sederhana seperti “Di mata anda, siapa anda?” atau
“Ceritakan sesuatu tentang anda”, banyak pelamar menatap pewawancaranya
dengan bingung dan lalu seketika menjadi tak percaya diri.

“Saya merasa biasa-biasa saja” atau “tak banyak yang bisa saya ceritakan
tentang diri saya” seringkali menjadi jawaban yang dipilih pelamar
sebagai upaya merendahkan diri. Selama ini banyak artikel karir
konvensional yang menyarankan agar anda sebaiknya merendahkan diri
sebisa mungkin, sebagai upaya mencuri hati si pewawancara. “Tapi ini
jaman modern. Jawaban yang terlalu merendah dan banyak basi-basi hanya
menunjukkan bahwa anda sebenarnya tidak yakin dengan diri anda. Dan
perusahaan masa kini tidak butuh karyawan seperti itu,” tegas Erina.

Pengalaman Eliana Burthon, staf humas sebuah hotel berbintang di New
York mungkin menarik untuk disimak. Ketika pewawancara memberinya satu
menit untuk bercerita tentang dirinya, Eliana mengatakan “Saya Eliana
Burthon, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak SMA, saya aktif di
koran sekolah. Disitu saya menulis, mewawancarai orang-orang di sekitar
saya dan berhubungan dengan mereka. Dari situ saya sadar alangkah
menariknya bisa bertemu dengan orang banyak, berdiskusi dan mengetahui
banyak hal dari mereka. Diluar itu, saya senang musik, membaca dan
traveling.Ketika kuliah, saya sering menulis pengalaman jalan-jalan
saya, atau sekedar memberi referensi kaset yang sedang laris untuk koran
kampus saya.”
Meski tak memberikan jawaban yang berbunga-bunga, apa yang diungkapkan
Eliana tentang dirinya menunjukkan bahwa dirinya terbuka, ramah dan
punya rasa ingin tahu. “Jawaban itu cerdas dan efektif untuk
menggambarkan bagaimana dia menyatakan secara implisit bahwa dirinya
merasa layak ditempatkan di posisi yang diincarnya. Pewawancara butuh
jawaban seperti itu. Cukup singkat, tapi menunjukkan optimisme yang
alamiah,” kata Erina Collins.
Kalau anda dipanggil untuk wawancara, sebisanya persiapkan diri dengan
baik. Rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa anda menjadi diri sendiri
adalah yang terpenting. Pewawancara tidak butuh jawaban yang
berbunga-bunga, berapi-api apalagi munafik. Pada kesempatan pertama,
mereka biasanya ingin melihat bagaimana si pelamar menghargai diri
sendiri. Sebab itu, buatlah beberapa poin tentang kemahiran anda,
hal-hal yang anda sukai dan inginkan untuk masa depan anda. Kalau telah
menemukan poin-poin itu, berlatihlah mengemukakan semua itu dalam sebuah
jawaban singkat yang cerdas dan optimis.

2. Hati-hati pertanyaan jebakan

Siapapun idealnya tak suka menjawab pertanyaan-pertanya an yang
memojokkan. Tapi begitulah kenyataannya ketika anda diwawancara.
Seringkali banyak hal tak terduga yang dilontarkan si pewawancara dan
membuat anda seringkali kelepasan bicara. Dalam hal ini, Erina memberi
contoh pengalamannya ketika mewawancarai seorang pelamar tentang mengapa
ia memutuskan pindah kerja.

“Ketika itu saya tanya ‘apa yang membuat anda memutuskan pindah kerja?
tadi anda bilang, lingkungan kerjanya cukup nyaman kan?’ dan pelamar itu
menjawab ’saya tidak suka bos saya. Seringkali ia membuat saya jengkel
dengan pekerjaan-pekerjaan tambahan dan itupun tidak membuat gaji saya
naik.’ Saya lalu berpikir, apa yang akan dia katakan jika suatu saat
keluar dari perusahaan saya tentulah tak beda buruknya dengan apa yang
dia ungkapkan pada saya tentang perusahaan lamanya,” ungkap Erina.
Poinnya, taktislah dalam memberi jawaban. Jangan pernah memberi jawaban
yang menjelekkan tempat kerja anda yang lama atau apapun yang
konotasinya negatif. Lebih baik kalau anda menjawab “saya menginginkan
ritme kerja yang teratur dan terjadwal. Mengenai gaji, sebenarnya di
tempat kerja yang lama tak ada masalah, tapi tentu saya senang kalau ada
peluang untuk peningkatan gaji.” Atau kalau anda ditanya tentang
kelemahan anda, lebih baik tidak menjawab “saya sering telat dan lupa
waktu.” Tetapi jawablah lebih taktis, misalnya “kadang saya memang
pelupa, tetapi beberapa waktu ini sudah membaik karena saya selalu
mencatat segalanya di buku agenda.” atau “saya sering kesal kalau kerja
dengan rekan yang lamban, tetapi sebisanya kami berdiskusi bagaimana
caranya menyelesaikan kerja dengan lebih cepat.”

Dalam wawancara, si pewawancara selalu berupaya mengorek sedapat mungkin
tentang kepribadian pelamar. Kadang pertanyaan sepele seperti “Sudah
punya pacar? Ada niat menikah dalam waktu dekat?” sering ditanggapi
buru-buru oleh si pelamar dengan menjawab misalnya “Sudah, rencananya
kami akan menikah akhir tahun ini.” Padahal, menurut Erina, jawaban itu
bisa jadi penutup peluang kerja anda. “Perusahaan selalu ingin
diyakinkan bahwa calon karyawannya hanya akan fokus pada pekerjaan
mereka, terutama pada awal masa kerja. Jawaban bahwa anda akan menikah
dalam waktu dekat justru menunjukkan bahwa perusahaan bukanlah fokus
anda yang sebenarnya, tetapi hanya seperti selingan,” ujar Erina sambil
menambahkan bahwa akan lebih baik kalau anda menjawab “sudah, tapi
sebenarnya saya ingin mempunyai pengalaman kerja yang cukup sebelum
memutuskan untuk menikah.”

3. Semangat dan bahasa tubuh

Dalam wawancara kerja, penampilan memang bukan nomor satu tetapi menjadi
pendukung yang ikut menentukan. Karena itu selain berpakaian rapi, tidak
seronok, mencolok atau banyak pernik, tunjukkan bahasa tubuh yang baik.
Jangan pernah melipat tangan di dada pada saat wawancara, karena memberi
kesan bahwa anda seorang yang kaku dan defensif. Idealnya, tangan
dibiarkan bebas untuk mengekspresikan kata-kata anda, tentu saja dengan
tidak berlebihan.

Selama wawancara berlangsung, buatlah kontak mata yang intens. Pelamar
yang sering membuat kontak mata menunjukkan keinginan untuk dipercaya
serta kesungguhan memberikan jawaban. Rilekslah dan sesekali tersenyum
untuk menunjukkan bahwa anda pribadi yang hangat. Umumnya, perusahaan
menyukai pelamar yang menyenangkan. Kurangi kata-kata “saya merasa…”
atau “saya kurang…” dan sebaiknya gunakan “saya pikir…”, “menurut
pendapat saya..”, “saya yakin…”, “saya optimis…”. Kata-kata “saya
merasa…” atau “saya kurang…” mengesankan anda lebih sering menduga,
menggunakan perasaan, tidak terlalu percaya diri dan tidak menguasai
persoalan.

Nah, siap bersaing di dunia kerja? Yang penting, persiapkan diri anda
dengan baik dan jangan pernah meremehkan pertanyaan sekecil apapun dalam
wawancara kerja. Selamat bersaing! (Lily Bertha Kartika/ berbagai sumber)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.